adsense

Monday, 28 November 2016

Kala Tundra


TERANG tanah dan semayup tembang.
Lelawa sembunyi di sungkup dedaun pisang.
Khala tertegun, menatap Tanah Kelahirannya untuk terakhir kali
Dia akan rindukan semua ini.

Bukit, Sungai, Kali kecil.
Kawan bermain dan Orang -orang yang menyayanginya. Semua itu di rindunya.
Di luar angan cuma angin.
Namun rasa ingin masih mungkin.
Sambil kembali melangkah, kidung do'a mantra tak henti dilidah..

Tanah Lang- Alang.
Langit cerah, bebijian rekah.
Angin berderai
Wangi para bunga semak liar di pinggir hutan.
Di sini yang ada hanya hutan dan sungai.
Khala bergerak dalam gairah muda usia. Langkahnya memancarkan keriangan  di antara pepohonan dan dedaunan yang bertebaran, berguguran menyentuh tanah.

Sepertinya Khala tidak akan kebingungan untuk urusan makan. Di hutan ini banyak umbi-umbian. Ia sudah terbiasa makan ganyong, gadhung, talas ataupun umbi-umbian yang lain.
Belum lagi Pohon Buah-buahan, Jambu, Burnih, Djamblang, Belimbing, Manting dan Buah Ara hutan.
Di tambah beberapa jenis ikan di sungainya. Bisa ia bakar untuk menangsal perutnya jika lapar nanti.

Khala memang Muda Usia.
Meski masih muda, Khala sudah  akrab dengan penderitaan. Keadaanlah yang membuatnya harus bertahan.
Sepeninggal bapa dan ibunya.

Rumah peninggalan Bapa dan Ibunya tak pernah sekalipun di tempatinya.
Khala lebih suka tidur di lereng bukit, di pinggir sungai atau di atas pohon yang banyak tumbuh di Tanah Djunjung.
Setiap Khala melihat rumahnya, ia tidak tahan menahan beban kenangan.
Dukanya terlalu Luka, Di genang Air mata.

Sejak masuk wilayah Tanah Lang-Alang,
Khala tahu bahwa beberapa sosok bayangan mengikutinya. Bergerak ringan dan cepat, di rimbun semak dan rumpun pohonan.
Khala yakin mereka si pemilik wilayah, dan dia tamu di tanah asing ini.
Cepat atau lambat mereka bakal muncul.
Ini hanya masalah waktu.

Khala lebih memilih pura-pura tidak tahu.
Khala lebih memilih duduk bersila. Di bawah bayang Pohon Angsana.
Memejamkan mata, sambil membaca gerak udara.
Di aturnya napas.
Lalu gemuruh kaki bergegas.
Mengepung.

Khala membuka mata, dan mulai bicara.
"Namaku.Khala.Tundra. Asalku dari Tanah Djunjung. Aku sedang dalam perjalanan ke timur. Sebab itu aku lewat sini.
Untuk memenuhi takdirku. Tolong jangan ganggu perjalananku".

"Semalam Keris  Pusaka Tanah Lang-Alang. telah hilang. di curi seseorang. Kami sekarang sedang mencari dan mengejar pencurinya. Maaf, kami tidak bisa begitu saja percaya kepada orang asing yang masuk ke wilayah kami sekarang". Jawab tandas suara seorang wanita dari balik punggungnya.

Khala terkesiap.
Ternyata pemimpin dari orang-orang ini adalah seorang Wanita.
Khala berdiri, dan memutar badannya. Berhadapan.

Di depannya, berdiri seorang Gadis muda seusianya. Ayu dan Gagah. Matanya bening, tajam menyelidik. Nampak aura pemimpin, memancar dari tubuhnya.

"Maaf, saya hanya numpang lewat". Jawab Khala.

"Kami akan memeriksa buntalanmu itu.Kisanak".  Lanjutnya.

Khala menatap Gadis muda itu.
Mata beradu mata.
Khala seperti tenggelam ke dasar palung matanya yang kelam.

"Tidak ada apa-apa didalam buntalanku ini,selain hanya beberapa barang tak berguna". Jawab Khala Tegas.

"Apakah itu artinya Kisanak keberatan untuk kami geledah? Jangan salahkan kami, jika kami memaksa." Jawab Gadis Muda itu tak mau kalah. Selesai berucap, mereka langsung membentuk formasi menyerang. Garuda Nglayang.

Khala merasa gairahnya seperti teluh menjalar, Tumbuh. Menunggu untuk disalurkan.
Seraya melafalkan berulang-ulang, Mantra-mantra sakti. Khala bersiap menanti serangan.

Gadis muda itu memberi isyarat, dan dari situ serangan bermula. Tujuh orang itu bergerak bersama-sama.
Serangan mereka datang,  layaknya seekor Garuda. Kedua sayapnya memukul dari kanan-kiri menutup gerak lari buruannya. Sementara Paruh dan Kakinya bergerak sebat, untuk mencengkeram dan mencabiknya.

Khala memuji serangan ini di dalam hatinya.
Tapi bukanlah Khala namanya jika menyerah begitu saja pada serangan pertama.
Mantra Pecah Rogo Di rapalnya.. mendadak Tubuh Khala memecah menjadi Tujuh. Sekarang setiap orang bertemu lawannya

Friday, 4 November 2016

Bulan

Bulan

Dulu kau simbol kecantikan
Dulu kau dipuja
Seperti titisan dewi
Rumah para dewa
Jauh disana terangmu bawa bahagia
Riak riuh anak anak bermain
Terangmu juga pahit

Bagi para pemuja laut
Dirimu begitu menakutkan

Bagi pemuja cinta
Dirimu lukisan jiwa
Kami melukiskan banyak tentangmu
Dan hanya satu yang sama
Namamu

Lelah itu

Selembar Menyebar, Seiris Mengguris.
Di mana harus berjumpa?
Debar ini tak jua menipis.

Haruskah Kureguk tandas debur garam lautmu?
Atau biarkan saja, aku mabuk dalam lekuk lehermu.

Getarkan saja matahari asmaramu
Agar menebar cahayanya,
Membakar Air matamu
Atau menukar senyummu dengan baranya.
Kini aku dalam lipatan bibirmu.
Menyerah.

Wednesday, 26 October 2016

Buat kamu

Kamu

Tiada lagi yang perduli
Tiada lagi yang mau bicara
Tiada lagi yang tersisa
Cuma ranting kering
Cuma seonggok Akar tua
Kemana lagi gagahmu
Kemana lagi dahanmu
Naungan ku saat terik
Naungan ku saat hujan
Hijaumu sejuk kan hati
Nafasmu semua untuk kami
Adakah rasa terima kasih itu
Ah sudah berlalu
Tanpa pengganti
Tanpa dirimu kami pasti menderita
Siapa yang akan memberi nafas
Siapa yang akan menyejukan
Cuma kamu yang bisa
Saat ini keadaanmu mulai hilang
Ditelan keserakahan
Kami telah lupa
Kami telah lalai
Masih adakah yang perduli
Entah
Entah
Kau simpan air tanpa kami minta
Kau kuatkan bumi tanpa kami minta
Namun sayang
Mana belas kasih itu
Semua demi satu kata uang

Ah sudahlah
Untuk apa berkeluh
Ku berjanji
Kutunaikan sendiri
Walau tak ada arti

Rindu

Rindu

Di penghujung Purnama
Kunang-kunang menabur cahaya.
Mengganti rindu sepi itu dengan debur sunyi
Agar malam tak dipeluk kelam
Biar duka tak bertemu nestapa
dan Kamu bersua Aku.

Satu satu tabir tersingkap
Bintang yang gemerlap pun berbisik
Lirih sahdu bersama malam

Berharap rintik air menetes di bibir
Puaskan rasa
Puaskan hasrat