adsense

Thursday, 6 April 2017

Batu Uwuh by Andi K

BATU UWUH DARI IMOGIRI.

Sebelum awan merupa aku.
Semesta adalah benih yang tersembunyi.
Sementara bumi-langit, kayu-besi, tanah dan bebatuan masih berujud biji.
Kamulah kekasihku abadi.

Hari sudah di puncak siang ketika aku sampai.
Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di sini. Makam Keramat Raja-Raja Jawa. 
Pasarean Imogiri. 

Turun dari mobil, ada kakek tua mendekat.
Dengan sopan dia sampaikan, bersedia mengantarku ke makam dan tak perlu di bayar. Harapannya,nanti aku berkenan mampir ke butiknya. 
Sudjiwo namanya.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
Aku serasa mengenalnya.

Tak jauh dari pintu masuk ada masjid.
Aku sudah bersiap menaiki tangga. ketika adzan dzuhur berkumandang.
Aku segerakan untuk menunaikannya.
Kakek Sudjiwo menunggu di luar.

Di sebelah dalam pintu pagar masjid, ada dua penjaga menggunakan pakaian adat jawa.

"Waduh sudah lama sekali Den Mas tidak kesini ya". Kata salah satu penjaga menyapa ramah.

Aku sempat tertegun dengan sapaannya. 

"Masak sih Mas, saya baru kali ini lho kesini".' Jawabku.

Ganti Mas si penjaga itu yang tertegun melihatku. 

"Ah..bisa aja Den Mas ini bercanda". katanya lagi padaku sambil tersenyum lebar.

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, sambil melangkah masuk ke dalam masjid. 
Bersembah sumarah. 
Mensyukuri nikmat hidup sehari.
Sepenggal usia sejengkal upaya, ke haribaan Gusti.

Aku dan kakek Sudjiwo melangkah perlahan menjejaki tangga.
Makam keramat Imogori ini, letaknya di tempat yang tinggi. Sebuah bukit di gugusan Pegunungan Seribu.

Pepohonan besar masih ada, terjaga. 
Senandung bunyi prenjak dan ciblek terdengar di sela angin yang mengalir, menggoyang pohonan.
Menentramkan.

"Tangga ini jika di hitung naik dan turunnya akan berbeda jumlahnya Den mas. selalu ada selisih". Kata Kakek Djiwo.

Aku hanya tersenyum sambil memandangnya.
Di tengah perjalanan naik tangga ini, ada semacam dataran untuk beristirahat. 
Di keteduhan sebuah pohon, seorang wanita tua menjajakan dagangan berupa pisang rebus,kacang rebus dan kue tradisional. 

Aku membeli beberapa.
Sempat aku beradu mata.
Nenek Prawirorejo namanya.
Aneh..seperti halnya Kakek Sudjiwo,
Nenek ini juga tak asing wajahnya bagiku.

Cukup beristirahat,lanjut langkahku. 
Kulirik kakek Sudjiwo.
Tak sekalipun letih mengganggunya meski usianya sudah tua.
Padahal ketinggian tangga inI sudutnya 45°. sejak dari bawah sana.

Sampai juga aku di pendopo.
Para tamu duduk bersila di gelaran tikar pandan, mengisi daftar hadir. 
Ada petugas yang membantu hal itu.
Menunggu antrian, duduk aku bersandar tiang penopang  pendopo. 
Sembari melihat ke pintu gerbang yang menuju makam. Tertutup.
Hanya pada hari-hari tertentu di buka untuk umum.

Taklama petugas yang ada di pendopo, bangun dari duduk bersilanya.
Berdiri membentuk barisan dalam 3 shof yang rapi. Mereka bersiap-siap sholat dhuhur. 
Bukan baju koko dan kain sarung yang mereka kenakan tapi pakaian adat jawa yang mereka kenakan beserta blangkonnya.
Tersenyum aku melihatnya. 

Iqamat tlah di baca. 
Sebentar lagi takbir dari sang imam pasti akan tiba. 
Tapi takbir itu tak jua tiba.
Ada sentuhan lembut di pundakku.

"Ajeng sholat rumiyin". Kata seseorang dari mereka.

"Oh..nggih..monggo". Jawabku.

Ketika melihat siapa orang yang menyentuh ku tadi. Ada melintas rasa terkejut.
Dia imam. yah..dia si imam yang kutunggu tunggu takbirnya. 

Pamit mau sholat padaku?
Aneh..
Padahal  juga banyak orang yang duduk sepertiku, tapi kenapa gak di pamitin?
Kenapa cuma aku?
Aneh...

Pasarean Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri. di Bantul Ngayogjakarta ini.
Di bangun pada tahun 1632 oleh Sultan Agung.
Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo. 
Arsiteknya adalah Kyai Tumenggung Citrokusumo. 

Entah kenapa aku tak asing dengan tempat ini. Aku seperti mengenali semuanya.
Orang-orangnya maupun bangunannya. 
De javu.

Tak mau berlama lama melamun.
Bergegas aku berdiri, melangkah turun. 
Kakek Sudjiwo juga melangkah turun. 
Aku sengaja melambat. 
Sejarak 11 tangga aku dengannya.
Sepertinya kakek Sudjiwo tahu, aku ingin sendiri.

Kusandarkan tubuhku di sebuah pohon waru.Kupejamkan mata. 
Kurasakan Angin yang menjalar dan udara yang mengalir, bergetar.
Gemerisik dedaunan dan pucuk daun bambu yang bernyanyi, menambah senyap pada sunyi.
Mataku berat, terlelap aku sejenak di bawah bayang-bayang pohonnya.

Ada yang beranjak ke mimpiku.
Seorang perempuan paruh baya. 
Matanya tajam dan teduh.
Kulitnya kuning langsat.
Tinggi semampai.
Rambutnya hitam panjang terurai.
Dalam balutan busana keraton Jawa, hijau cemerlang. 
Ia tak sekedar terlihat cantik tapi juga berwibawa. Aku seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana.
Ia memberikan sesuatu padaku.

"Ini Wedang Uwuh Khas Imogiri, terimalah". Katanya lembut menyapaku.

Entah mengapa aku langsung menerimanya.
Aku genggam pemberiannya itu  di tanganku.

"Ini untuk apa". Tanyaku.

"itu  kenang kenangan dariku,". Suaranya lembut mendayu.

"Siapakah kamu". Tanyaku.

"Den Mas.. Bangun ....Den Mas..". Satu suara membangunkanku. Mimpiku buyar.
Kubuka mata. sambil meregangkan badan.
Paruh hari lewat, sore merambat.
Padahal kupikir mimpiku singkat.

"Kakek Sudjiwo, bukankah kakek sudah turun tadi?". Tanyaku.

"Iya Den Mas, cukup lama saya menunggu di bawah. Saya khawatir.dengan Den Mas, Makanya saya putuskan kembali naik untuk memastikan". Jawabnya sambil menunduk.

"Matursuwun ya Kek". Kataku.
Terharu aku pada perhatiannya.

Bergerak aku bangun. 
Terkejut aku tiba-tiba. 
Di genggaman tanganku, kini ada sebungkus rempah-rempah. 
Tapi bukankah itu tadi hanya di dalam mimpi saja?  Bagaimana kini aku benar-benar menggenggamnya?
Aneh...ini benar-benar aneh.

Sambil melangkah turun, kutanyakan pada kakek Sudjiwo tentang bungkusan ini. 

"Itu namanya Wedang Uwuh Den Mas, Entah darimana Den Mas mendapatkannya. Sepengetahuan saya, di sini tidak ada yang menjualnya". Jawab kakek Sudjiwo dengan suara dan pandangan sarat makna.

Mendengar jawaban kakek Sudjiwo, jantungku berdegup lebih cepat.
Kaget bercampur dengan takjub.
Seketika aku menoleh ke belakang.
Tak ada siapapun.
Tak juga sosok perempuan di mimpiku itu.
Siapakah dia?...

Sebelum pulang, aku sempatkan mampir ke butiknya kakek Sudjiwo. 
Membeli beberapa bahan batik untuk oleh-oleh.
Sekalian berpamitan.
Kakek.Sudjiwo mengantarku ke mobil.

"Tempat yang Den Mas istirahat tadi itu adalah tempat angker lho. Tapi saya lihat tadi Den Mas telah menggenggam keramatnya. Jadi saya yakin Den Mas akan baik-baik saja." Katanya padaku.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum sambil menatap wajah tuanya terakhir kali. 

"Sugeng tindhak Den Mas". Kata kakek Sudjiwo sambil melambaikan tangannya.

Mobil bergerak menjauh.
Aku masih penasaran dengan mimpiku.
Ia yang bertandang ke mimpiku, pasti datang jauh darI luar ruang dan waktu.

Kubuka bungkusan itu.
Sekilas hanya  berisi ramuan jamu.
Tersamar dengan rempah-rempahnya, sebuah batu teraba.

Kukeluarkan dari bungkusannya.
Warna merahnya menyala.
Bening sekali.. Indah.
Sedetik aku terbayang wajah perempuan cantik itu lagi.

Di saat berbeda
Tunggu saatnya
Aku akan kembali Imogori.

#Fiksi
#NdikKotaTangerang
#SalamSungkengKagemKandjengIbu
#SalamSungkemKagemParaPiniSepuh
#ParaKancaLanSanakKadang

No comments:

Post a Comment