adsense

Friday, 14 April 2017

Kekasih

RUHUL QUDUS

Kita tumbuh dari akar berbeda.
Meski mencecap air dari sumber yang sama.
Aku datang dari perih yang diguritkan angin.
Engkau hadir dari kuntum selasih.
Di selubung cahaya, kau kenalkan dirimu. Kekasih.

Dia menghadang langkahku di ujung gang.
Aku yang terburu karena gerimis, mencoba beringsut.
Tapi langkahnya menyudut.
Aku menghindar, langkahnya mengunci kian lebar.
Aku mati langkah.

Pemuda kurus tinggi itu, rambut peraknya kusut masai. Warna jubahnya putih kecoklatan.
Aku pikir dia gila atau gembel darimana.
Hanya wajahnya..yah wajah itu bercahaya.
Matanya biru telaga dengan bias bianglala.
Malampun malu, sembunyi di balik jubahnya.

"Hai anak muda, mendekatlah.
Aku telah menempuh jutaan hari untuk bisa menjumpaimu.  Meruang dalam dimensi dan menunggumu lama di langit dunia." Katanya padaku dalam aksen yang asing.

Aksennya asing tapi wajahnya akrab di kenangku.
Sedetik aku terlupa nama.
Sekejap aku tergagap...
Ruhul Qudus, engkaukah itu?
Yah...itu pasti kau.
Bukankah Jibril itu hanya sebuah nama dari sekian banyak namamu.

"Aku hadir malam ini, untuk mengingatkan pesan lama leluhurmu anak muda." Katamu dengan suara yang menenangkan.

Tangannya tiba-tiba bersinar.
Putih ke kuningan.
Malam yang berkawan gerimis, nyala dalam benderang.
Rongga dadaku mengembang.
Ada yang tercerabut di dalam sana.
Aku memandang pemuda kurus itu nanap.
Nyala di tangannya mulai redup.

Ganti tangan kananku yang mulai  bercahaya.
Aku sebut nama Tuhan.
Dadaku meledak.
Bukan tulang, daging, urat dan darah yang menghambur keluar.
Tetapi ratusan cahaya berkilau dari pori kulitku, menyebar ke sekitar.

"Sudah kusampaikan pesannya." Kata pemuda kurus itu. Ketika padam cahaya di tanganku.

Sekujur tubuhnya kini meriap sinar.
Di punggungnya tumbuh sepasang sayap.
Tanpa berkata-kata.
Berkiblat ia ke angkasa.
Aku lalu gamang di kegelapan.
Di telapak tangan ada sebuah gulungan.
Kubuka perlahan.

IQRA'

Itu yang tertulis di sana.
Sebelum menyerpih.
Kembali merupa cahaya dan sirna.

Taring cahaya seperti menarikku kembali.
Mengulangi lagi kisah lama di dalam gua.
Jejak rindu sang maha manusia.
Muhammad namanya.
Di peram perih waktu.
Berkarib dengan nasib.
Berabad abad di sepinya malam.

Aku menangis dalam gerimis.
Bagai daun tanggal terbasuh embun.
Di ujung gang aku sendiri, menggigil.
Bagai pohon di lucuti musim, kangenku bugil.
Aku cinta engkau.
Aku cinta engkau.
Kataku sambil berlari.

(Selesai) create by Andi K

#Fiksi
#NdikKotaTangerang
#SelamatBerlibur
#SayangkuBagiKalianSemua

No comments:

Post a Comment